Artikel

BULAN SYAWAL MENJADI AJANG MEMPERTAHANKAN IBADAH
BULAN SYAWAL MENJADI AJANG MEMPERTAHANKAN IBADAH

Bulan Ramadhan telah usai. Setelah kita melewati bulan suci Ramadhan, tentu kita perlu untuk tetap menjaga amalan-amalan kita sebagai bekal nantinya di akhirat. Sungguh sangat disayangkan sekali jika ada orang yang setelah melewati bulan Ramadhan lalu meninggalkan begitu saja amalan-amalan sunnah seperti qiyamul lail (shalat tarawih), puasa sunnah, dan ibadah sunnah lainnya. Perlu adanya kebiasaan-kebiasaan baru agar kita dapat tetap istiqomah setelah melewati bulan suci Ramadhan. Dikutip dari rumaysho.com, beberapa amalan yang sebaiknya dilakukan seorang muslim setelah menunaikan puasa Ramadhan yaitu sebagai berikut:


1. Tetap Istiqomah Menjaga Sholat 5 Waktu

Bulan Ramadhan merupakan bulan yang sangat berbeda dengan bulan-bulan lainnya. Orang yang mungkin dulu malas pergi ke masjid atau sering meninggalkan shalat lima waktu justru pada saat bulan Ramadhan cukup terlihat bersemangat untuk melaksanakan  shalat terutama di masjid. Namun, kebanyakan orang kembali lalai dan meninggalkan shalat begitu saja seiring dengan bulan Ramadhan yang telah berakhir. Jika memang pada saat Ramadhan kita bersemangat untuk menjalankan shalat lima waktu, maka hendaklah amalan tersebut tetap dijaga setelah bulan Ramadhan. Begitu pun dengan shalat berjama’ah di masjid, khususnya untuk kaum pria. Salah satu keutamaan orang yang menjaga shalat lima waktu yaitu terdapat pada salah satu hadist berikut, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah ‘azza wa jalla berfirman, ‘Aku wajibkan bagi umatmu shalat lima waktu. Aku berjanji pada diriku bahwa barangsiapa yang menjaganya pada waktunya, Aku akan memasukkannya ke dalam surga. Adapun orang yang tidak menjaganya, maka aku tidak memiliki janji padanya’.” (HR. Sunan Ibnu Majah no. 1403. Syaikh Al Albani dalam Shohih wa Dho’if Sunan Ibnu Majah mengatakan bahwa hadits ini hasan).


2. Membiasakan Diri Untuk Berpuasa Sunnah

Banyak sekali puasa-puasa sunnah yang dapat dilakukan oleh seorang muslim setelah bulan Ramadhan. Dibulan Syawal saja, kita dapat menunaikan puasa enam hari di awal bulan Syawal. Dan juga di setiap pertengahan bulan Hijriyah, kita disunnahkan untuk berpuasa tiga hari atau bisa disebut puasa Ayyamul Bidh yaitu pada tanggal 13, 14, dan 15. Selain itu, kita juga dapat melakukan puasa Senin-Kamis, puasa Arafah (pada tanggal 9 Dzulhijjah), puasa Asyura (pada tanggal 10 Muharram), dan banyak puasa-puasa sunnah lainnya sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Keutaman dari puasa sunnah terdapat dalam hadits Qudsi berikut, “Dan senantiasa hambaKu mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 2506).


3.Tetap Menjaga Shalat Malam

Pada saat bulan Ramadhan, masjid terlihat ramai pada saat Qiyamul Lail (shalat tarawih). Tetapi, coba kita lihat setelah bulan Ramadhan, amalan shalat malam (tarawih) ini seakan hilang begitu saja. Seolah-olah amalan shalat malam ini hanya ada pada bulan Ramadhan saja, yaitu ketika melaksanakan shalat tarawih. Seharusnya jika kita menjalankan ibadah dibulan Ramadhan dengan sungguh-sungguh, maka selepas bulan Ramadhan akan terbiasa untuk beribadah sunnah shalat malam. Hendaklah kita merutinkan amalan shalat malam ini setelah bulan Ramadhan, karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mencela orang yang dulu gemar shalat malam namun sekarang dia meninggalkannya. Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Al ‘Ash radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata padaku, “Wahai ‘Abdullah, janganlah engkau seperti si fulan. Dulu dia biasa mengerjakan shalat malam, namun sekarang dia tidak mengerjakannya lagi.” (HR. Bukhari no. 1152). 


Walaupun mungkin kita tidak bisa mengamalkan ibadah sunnah secara keseluruhan, setidaknya kita perlu konsisten dalam mengamalkan ibadah-ibadah sunnah. Bahkan dapat dikatakan lebih baik mengamalkan ibadah sunnah yang sedikit daripada tidak mengamalkannya sama sekali. 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bebanilah diri kalian dengan amal sesuai dengan kemampuan kalian. Karena Allah tidaklah bosan sampai kalian merasa bosan. (Ketahuilah bahwa) amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang kontinu (ajeg) walaupun sedikit.” (HR. Abu Daud, An Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah. Syaikh Al Albani dalam Shahihul Jami’ no. 1228 mengatakan hadits ini shahih). 


TOP