Artikel

Kenali Inner Child (Part 1)
Kenali Inner Child (Part 1)

Apakah anda pernah melihat seorang rekan atau saudara kalian yang memiliki kepribadian ceria dan mudah bergaul ? Atau bahkan pernah bertemu dengan orang yang mencari perhatian, emosional tinggi dan tidak peduli dengan orang lain ?

Mari kita refleksi diri sebentar sembari bertanya kepada diri kita sendiri tentang kepribadian yang kita miliki hari ini

Manusia terus bertumbuh semakin dewasa setiap harinya. Namun tidak semua orang mengenal proses pertumbuhan dan perkembangannya, khususnya perkembangan emosionalnya. Kebanyakan, seseorang akan mulai menyadari kepribadiannya yang berbeda ketika dewasa. Tiba-tiba mereka merasa mudah marah, mudah tersinggung, mudah tersenyum, mudah menangis dan bahkan ada juga yang dengan mudah memutus hubungan dengan orang lain tanpa rasa bersalah.

Tapi taukah kalian mengapa itu semua terjadi ? Faktanya salah satu faktor yang mempengaruhi hal tersebut adalah Inner Child. 

Inner child merupakan kumpulan peristiwa baik maupun buruk pada masa kecil dan dapat membentuk kepribadian kita saat ini. Istilah Inner Child mulai popular dikalangan para psikolog di tahun 1970an yang di bahas secara komprehensif oleh Lucia Capacchione pada tahun 1976. Inner Child ada di bawah alam sadar setiap orang dan akan mempengaruhi seseorang dalam merespon suatu masalah.

Inner child yang buruk pada seseorang dapat menjadi sebuah masalah di masa dewasanya. Hal ini bisa disebabkan oleh kekerasan atau trauma di masa kecil, pelecehan seksual, pertengakaran orang tua, perceraian orang tua, penindasan atau bullying, kehilangan orang tua, mengalami pengabaian oleh keluarga, keluarga terlalu posesif, atau kurang mendapatkan kasih sayang dapat melukai Inner Child seseorang.

Dampak yang terjadi apabila hal tersebut tidak ditangani dengan baik yaitu seseorang dapat mudah menyakiti diri sendiri, memiliki perilaku yang merugikan diri sendiri dan/atau orang lain, punya perilaku pasif-agresif, sering memendam perasaan marah dan kecewa, memiliki sikap yang kasar bahka mengarah kepada kekerasan.

Selanjutnya apakah Inner Child yang terluka ini bisa disembuhkan ? Sayangnya tidak bisa karena pengalaman masa kecil yang telah terluka atau rusak, akan menjadi catatan yang membentuk kepribadian diri kita. Walaupun tidak dapat disembuhkan, namun kita dapat mengendalikan dan memberikan respon positif terhadap luka Inner Child tersebut. Karena luka Inner Child yang belum pulih, akan selalu mengganggu diri seseorang. Sebuah penelitian dari Psyuchology Today mengatakan, ketika tubuh menahan rasa sakt emosional atau fisik, dan kita mencoba mengabaikan rasa sakit itu, sebenarnya rasa sakit itu akan tetap ada atau tidak pernah hilang. Hanya saja perasaan tersebut teralihkan sesaat. Namun jika tersentuh lagi atau kita mengingatnya, kita akan merasakan luka Inner Child yang kita miliki.

Ada beberapa tips yang dapat dilakukan untuk meredakan dan menyikapi inner child yang terluka, yaitu :

1.     Temukan dan salurkan emosi yang selama ini kita tekan dan pendam ke hal positif.

Ketika kita sudah menemukan apa yang membuat inner child kita terluka, cobalah untuk mengakui dan memaafkannya. Bisa dengan menuliskannya dalam sebuah buku atau mengutarakannya kepada diri sendiri. Kemudian salurkan emosi tersebut kedalam hal positif seperti olahraga atau menulis cerita.

2.     Mulailah memerhatikan diri sendiri dengan melakukan self-care.

Mulailah dengan berterima kasih dengan diri sendiri dan anda juga bisa melakukan “butterfly hug” sembari mengucapkan hal positif terdahap diri sendiri.

Namun perlu kita ingat, semua terapi tersebut memerlukan proses yang panjang. Terlebih apabila hingga dewasa kita belum bisa mengendalikan inner child yang terluka. Jadi nikmatilah prosesnya dan berusahalah terus untuk mengendalikannya.

(UMMA/UU)

TOP