Kamar yang sempit, atap yang rendah, Perabotan yang berdekatan, sirkulasi udara yang kurang, adalah kondisi yang harus dilalui oleh Ibu Minaya (87 tahun). Ibu yang tinggal sendiri sejak tahun 1977 tersebut, tidak memiliki siapa-siapa untuk membantunya di sana. Kondisi fisik yang sudah tidak kuat lagi untuk melangkah, harus membuatnya menggunakan tongkat berjalan hanya untuk sekadar berjalan dari kasur menuju halaman depan yang jaraknya sekitar 3 meter dan memaksanya untuk berhenti bekerja sebagai kuli panggul.

Kamar yang luasnya hanya 3×3 meter itu, berisikan kasur, lemari pakaian, meja untuk perabotan, cermin. Tidak ada kamar mandi, kamar mandi yang ada berjarak 100 meter dari kamarnya, sehingga tercium bau tidak sedap dari kamarnya. Mungkin dari luar, ibu Minaya bisa tersenyum dan berdoa, namun dari dalam hatinya dia merasa sendirian. Di tengah pandemi ini juga, sangat sulit baginya untuk mendapatkan makanan. Anaknya sendiri juga sulit untuk menemui dirinya.

Nggeh mugi-mugi ae waras terus mas… Diberikan rizqi kalihan gusti pengeran. Nggeh mugi-mugi musibah niki saget selesai mawon” itulah doa ibu Minaya yang dilontarkan dan menjadikan harapan bagi ibu Minaya di tengah krisis dan wabah yang melanda negeri ini.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

WhatsApp chat